My Lifestyle, My Journey, My Happiness

September 28, 2019

Superstories, 100 Kisah Teladan untuk Generasi Harapan

by , in


Ketika rindu pada si kakak yang berada di pondok mulai menggebu, salah satu yang saya lakukan adalah menulis tentang kebersamaan kami yang telah lalu. Ya, we time saat bersamanya memang menghadiahkan banyak cerita. Sungguh asyik rasanya saat diingat-ingat dan diulas kembali. Rindu sedikit terobati, sekaligus menghasilkan goresan pena yang menyehatkan hati.



So, rindu itu memang berat, Mak! Rindu pada anak jelas lebih berat dari rindunya Dilan pada Milea. Sebelum itu terjadi pada teman-teman, para Emak sekalian, sungguh manfaatkan kebersamaan kalian! Ambil kesempatan sebanyak-banyaknya untuk bisa ber-we time bersama anak. Tidak harus selalu keluar rumah karena berdua-duaan bersamanya di dalam "istana kita" juga adalah momen yang pasti akan berharga.

Nah, salah satu momen berharga saya bersama Afra adalah saat saya mulai membacakan buku untuknya. Kira-kira, usianya 3.5 tahun waktu itu. Golden moment-nya adalah menjelang tidur, walaupun dia juga cukup antusias saat kami melakukannya di luar itu. 

Bagian belakang buku

Kemarin saya membongkar-bongkar perpustakaan kecilnya dan menemukan salah satu buku paling lama yang dimilikinya. Judulnya adalah "Superstories for Little Muslims", dengan tagline "100 Kisah Super Pembangun Karakter Ananda". Seingat saya, buku itu saya beli saat ada agenda Malang Islamic Book Fair, saat Afra berusia sekitar 5 tahun.

Ini dia info tentang bukunya:

Judul: Superstories for Little Muslims
Penulis: Ariany Syurfah
Penerbit: Sygma Publishing
Terbit: April 2009
Tebal buku: vi + 202 halaman
Ukuran buku: 18,5 x 26 cm
ISBN: 978-979-055-011-7

Dari segi fisik buku, sampul buku ini pas untuk anak karena hard cover sehingga tahan sobek. Terbukti, sudah sepuluh tahun berlalu tapi sampulnya tetap kokoh. Hanya saja, ujung-ujung buku tetap "runcing" sebagaimana buku konvensional lainnya. Agak berat juga, sehingga kurang pas untuk dipegang batita.

Buku lama penuh kenangan berharga

Ya, bukan "runcing" yang bisa melukai, sih. Batita juga boleh jika hanya sekadar pegang tapi sebaiknya dengan pengawasan orang tua. Seperti si adek yang kemarin-kemarin juga memegang buku tersebut tapi sekilas saja. Karena sebenarnya buku ini memang diperuntukkan bagi anak berusia 7-12 tahun.

Afra memang masih 5 tahun saat itu tapi dia pengen punya, hehe. 

Sudah sobek bagian depannya 😁

Nah, bagian dalam bukunya berisi kertas glossy dengan ilustrasi yang full color. Masing-masing kisah "dijatah" satu halaman di sebelah kiri, ditambah gambar untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan yang berada di sebelah kanannya. Sebuah perpaduan yang cukup bagus menurut saya. 

Mengoptimalkan IQ, EQ, dan SQ Lewat Buku

Tercetak logo kecil di sampul buku, "Membangun IESQ Ananda" dan begitulah tujuan penulis buku ini yang menghadirkan 100 kisah teladan di dalam bukunya. Anak-anak tidak cukup hanya memiliki kecerdasan intelligent, yang biasanya diukur dalam capaian nilai akademik di sekolah. Anak-anak juga harus dioptimalkan kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritualnya.

Kisah-kisah singkat dalam buku ini berasal dari Alquran, hadits, beragam kitab para ulama, dan beberapa buku rujukan yang tersebut di daftar pustaka. Kisah singkat itu cukup karena jadi lebih mudah diingat oleh anak-anak. Ibaratnya, buku ini adalah "kumpulan cerpen", bukan novel.

Dengan bahasa sederhana yang cukup mudah dipahami, setiap kisah dalam buku ini diakhiri dengan "Pesan Super" yaitu intisari/hikmah yang bisa ditarik dari masing-masing kisah. Ada juga tambahan ilmu berupa "kata baru" yang terdapat dalam kisahnya lalu dijelaskan apa artinya. 


Misalnya, ada kisah berjudul "Doa yang Dikabulkan" yaitu kisah tiga ulama pada zaman Nabi Daud 'alaihissalaam. Saat itu terjadi kekeringan pada sebuah kota akibat kemarau yang panjang. Beragam cara sudah dilakukan para penduduk tapi tetap tak ada hasilnya.

Akhirnya, para penduduk mendatangi tiga orang ulama yang dikenal sangat taat kepada Allah Swt. Ketiganya pun berdoa dengan sungguh-sungguh agar Allah Swt menurunkan hujan. Alhamdulillah, hujan akhirnya turun melalui doa dan usaha tiga orang ulama tersebut. 

Nah, di sinilah IQ, ES, serta SQ terbangun melalui kisah yang dibacakan oleh orang tua atau saat anak mulai membaca sendiri bukunya. Anak jadi memahami bahwa bumi memerlukan air agar tanaman yang dibutuhkan manusia tumbuh subur. Anak jadi mengerti bahwa kita harus menolong sesama dengan apa yang kita bisa, seperti yang dilakukan oleh tiga ulama itu. Juga, anak akhirnya menyadari bahwa hujan itu bisa turun atas izin Allah Swt semata.

Lalu, cerita favorit Afra yang mana?

Hehe, sepertinya hampir semua cerita disukainya. Namun ada satu cerita yang sepertinya membekas di benaknya dan diaplikasikan dalam tutur katanya. Mungkin saat itu Afra sudah berumur 7 tahun. Saat itu, saya pernah mengambilkan makanan yang agak banyak di piring makan Afra.

"Kebanyakan nih, Mi!" kata Afra.
"Gak pa-pa. Biar kenyang," jawab saya.
"Jangan kenyang-kenyang lah. Nanti Rahasia Iblis," sahutnya.

Ups. Astaghfirullah. Salah deh, saya. 

Ilustrasi Nabi Yahya bertemu dengan Iblis

Rupanya dia teringat salah satu kisah berjudul "Rahasia Iblis" saat Nabi Yahya digoda oleh iblis sehingga beliau makan agak kenyang, lalu jadi malas mengerjakan salat. Itu baru "agak kenyang", lho. Lha gimana kalau kenyang beneran?

So, ayo ber-Ketofastosis Lifestyle agar tidak banyak makan. Lho? Jadi ngiklan 😆 Hahaha, maapin yak!

Back to the laptop!

4 Tips untuk Orang Tua agar Tujuan Buku Ini Tercapai

Berikut ini 4 tips untuk kita sebagai orang tua saat membacakan atau mendampingi anak membaca buku ini. Tentunya bisa diterapkan pada buku yang lain juga.

1. Jadikan membaca buku sebagai waktu yang berkualitas antara anak dan orang tua.

Mengalokasikan waktu itu harus! Jauhkan gawai dari tangan kita, lanjut dengan memusatkan perhatian pada isi bukunya. Jika masih dalam taraf membacakan, gunakan intonasi yang jelas dan penuh semangat. Lebih bagus lagi jika kita bisa mengubah-ubah suara sesuai dengan karakter tokoh yang sedang dibacakan.

Alhamdulillah, saya sendiri bisa menirukan suara beberapa hewan, nenek-nenek, lelaki dewasa, dan juga suara anak kecil. Ini membuat si anak jadi lebih antusias menyimak, lho.

2. Minta anak untuk melakukan re-telling.

Ya, re-telling atau menceritakan kembali adalah sebuah cara untuk mengetahui apakah anak menguasai jalannya kisah dan pesan yang disampaikan di dalam buku.

Tentu saja tidak harus sama persis dengan kata-kata di dalam buku karena ini bukan tentang hapalan. Ini tentang pemahaman. Gantian, deh. Orang tuanya yang didongengin, hehe. 

Dokumentasikan saat si anak melakukan re-telling, beri apresiasi, dan bila perlu beri hadiah kecil untuknya. InsyaAllah, ini akan semakin membuatnya bersemangat mencintai buku.

3. Diskusikan isi kisah dalam buku dengan anak. 

Jika anak belum bisa melakukan re-telling, jangan dipaksa. Ajak saja berdiskusi tentang isi kisah di dalam buku dengan terlebih dahulu kita yang memancing dengan berbagai pertanyaan ringan. Serius tapi santai saja. 

4. Terapkan isi buku dalam kehidupan sehari-hari.

Nah, kalau ini sih sudah pada tahap memahami dan menjalani. Anak yang sudah memahami isi buku, biasanya akan menghubungkan kejadian sehari-hari dengan pesan yang terdapat di dalam buku. Applicable sekali dan ini patut disyukuri.

100 kisah yang penuh kenangan

Alhamdulillah, kerinduan pada si kakak sudah sedikit terobati dengan ulasan tentang buku lama ini. Buku yang tak lama lagi akan saya bacakan pada si adek yang saat ini berusia 3 tahun. Barangnya boleh lama tapi manfaatnya tetap ada. Terbukti, buku adalah investasi berharga. 

Hmm... sepertinya, saya akan melanjutkan lagi agenda membongkar-bongkar buku lama Afra. Just read about them here!



Salam,





Postingan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post (ODOP) September 2019 by Estrilook Community.


#ODOPDay8

September 20, 2019

Habibie Telah Pergi, Meninggalkan Banyak Catatan Berkesan di Hati

by , in

Ada yang hilang dari bangsa Indonesia; salah satu putra terbaiknya telah tiada. Benar-benar kehilangan yang seakan tak tergantikan. Setiap kali membuka beraneka media, pemberitaan tentang beliaulah yang menjadi sorotan utama. Bacharuddin Jusuf Habibie atau B.J.Habibie telah pergi untuk selamanya, menghadap Sang Maha Cinta.

Rabu itu begitu kelabu. Pada 11 September 2019, tepat pukul 18.05 WIB, salah satu putra terbaik bangsa itu akhirnya pergi dalam usia 83 tahun, setelah selama dua pekan dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat atau RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Innalillahi wa Inna ilaihi raaji'uun. Allahumaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu.

Tidak ada alasan bagi saya untuk tidak menuliskan beberapa catatan berkesan tentang beliau. Tidak lain karena saya pun merasa kehilangan padahal saya bukan siapa-siapa beliau. Hanya rakyat jelata yang tak pernah sekali pun bertemu muka. 


Maka saya begitu memahami kesedihan mendalam yang terpancar pada mata orang-orang dekat Eyang Habibie, demikian saya ingin memanggilnya. Ya, seakan jutaan cucu sedang kehilangan kakek mereka pada hari itu.

Kematian adalah sebuah kepastian. Sebelum itu terjadi, alangkah beruntungnya mereka yang memiliki catatan berkesan sepanjang perjalanan kehidupan. Eyang Habibie adalah salah satu dari mereka; rekam jejak hidupnya begitu menginspirasi banyak anak negeri.

1. Anak yang Rajin Membaca Buku

Eyang Habibie yang lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936 ini sejak kecil memiliki hobi membaca. Putra pasangan Alwi Abdul Djalil Habibie dan RA Tuti Marini Puspowardojo ini sudah lancar membaca saat berusia 4 tahun. Sejak saat itu, setiap kali ada waktu senggang, Habibie kecil mengisinya dengan membaca buku-buku yang disediakan oleh ayahnya.


Rudy, begitu nama panggilan beliau saat kecil, begitu menikmati buku sepenuh kalbu seakan sedang bersantap. Berbagai genre buku, mulai dari ensiklopedia hingga buku cerita, tuntas dilahapnya. Nah, buku paling berkesan dan menjadi favorit Rudy adalah "Around The World in Eighty Days" karya Jules Verne. Tak lain karena itu merupakan buku pertama yang dibelikan Sang Ayahanda.

2. Salah Satu Manusia Paling Jenius di Dunia

Sebelum suka membaca buku, Rudy kecil adalah seorang anak yang selalu ingin tahu. Sejak berusia 2-3 tahun, Rudy adalah anak yang cerewet sekali karena sering bertanya A sampai Z pada ayahnya. Seakan apa-apa yang ingin diketahuinya harus diungkap tuntas saat itu juga. Beruntung, Sang Ayah dengan sabar menjawabnya dengan bahasa yang mudah dipahami Rudy.


Kebiasaan baik di atas terus berlangsung seiring tumbuh kembangnya, masa anak-anak,remaja, dan dewasa muda. Rudy pun tumbuh menjadi sosok kritis dan pembelajar dan kelak membuat beliau dikenal sebagai salah satu manusia paling jenius di dunia. Intelligent Quotient Eyang Habibie mencapai 200, Masya Allah.

3. Berguru di Negeri Orang karena Kecerdasan

Saat memasuki usia dewasa muda (tahun 1959), Eyang Habibie mendapatkan beasiswa untuk berkuliah di Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule (RWTH), Aachen, Jerman karena buah dari kecerdasannya. Di sana, beliau menghabiskan masa muda untuk fokus pada studinya yang mengambil jurusan Teknik Penerbangan dengan spesialisasi konstruksi pesawat terbang.


Kecerdasan dan ketekunan beliau membuahkan gelar doktor, sebuah gelar yang saat itu tidak main-main dan masih jarang disandang. Selanjutnya, Eyang Habibie melanjutkan kariernya di perusahaan penerbangan Messerschmitt-Bolkow-Blohm (MBB).

4. Mendapat Julukan Elegan: Mr. Crack

Eyang Habibie pernah mendapat julukan Mr. Crack. Sebuah julukan keren yang dilatarbelakangi oleh kesuksesan beliau saat berhasil memperlihatkan kepada dunia bagaimana cara menghitung crack propagation on random hingga ke atom-atomnya.

Apa itu?

Saat itu Eyang Habibie tengah bekerja di Jerman, di sebuah perusahaan bernama Hamburger Flugzeugbau (HFB). Datanglah tantangan dari Departemen Pertahanan Jerman kepada para ahli untuk mencari penyebab jatuhnya pesawat Fokker 28 dan pesawat tempur Jerman Starfighter F-104 G.

Challenge itu sukses dipecahkan oleh Eyang Habibie sehingga lahirlah Teori Habibie, Faktor Habibie, hingga Prediksi Habibie. Hasil-hasil challenge itu lantas masuk ke dalam buku pegangan soal prinsip-prinsip ilmu desain pesawat terbang standar North Atlantic Treaty Organization (NATO) yang berjudul Advisory Group for Aerospace Research and Development.
IG: @act_gharantaly

Salah seorang ahli aerodinamika di Jerman Barat, Lascka, menyatakan bahwa teori yang ditemukan oleh Eyang Habibie tersebut sangat berharga untuk ilmu kedirgantaraan. Tak lain karena masalah retakan dalam struktur pesawat memang menjadi salah satu hal yang dicemaskan oleh para perekayasa. Luar biasa!

5. Menemukan Cinta Sejati pada Hasri Ainun Besari

Seorang laki-laki jenius yang sangat romantis dan setia. Saya kira, itulah hal-hal yang akan terus melekat dalam ingatan kita tentang Eyang Habibie. Bisa dikatakan, sosoknya sebagai laki-laki idaman itu mendekati sempurna!

Inilah yang dikatakannya tentang Ainun saat awal-awal kedekatan mereka:

So sweet (dok. Tempo.co.id) 

Pada tanggal bersejarah, 12 Mei 1962, Habibie dan Ainun resmi mengikat kesejatian cinta mereka. Jodoh dan cocok. Dua manusia pecinta ilmu itu pun mendirikan Perpustakaan Habibie dan Ainun di rumah mereka di Kuningan, Jakarta. Di dalam perpustakaan itu terdapat ribuan buku mulai dari biografi tokoh dunia sampai kain tradisional.

Sungguh banyak kisah yang mereka lalui bersama. Kisah cinta yang membuahkan dua orang putra, Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie.⁠ Suka dan dukanya punya cerita penuh makna. Bahkan saat Ainun meninggal dunia pada tanggal 22 Mei 2010, kisah cinta mereka tidak berhenti begitu saja.

Eyang Habibie yang merasa kehilangan akhirnya menulis buku tentang kisah mereka berdua, Habibie dan Ainun. Buku yang bisa mengobati kerinduan dan rasa kehilangan yang teramat dalam. Buku fenomenal yang berlanjut dengan proyek film dengan judul sama, yang akhirnya laris manis ditonton jutaan pemirsa. 


Nobar gratis Habibie dan Ainun 1 dan 2

Saya yakin, banyak manusia Indonesia tergugah dengan pesan-pesan berharga pada film yang disutradarai oleh Faozan Rizal, dibintangi oleh Reza Rahadian dan Bunga Citra Lestari tersebut. 



"Bagi saya berlaku maut pun tidak bisa memisahkan kami. Itu namanya cinta ilahi," tegas Eyang Habibie.

Masya Allah. 

6. Kembali ke Indonesia untuk Mengabdi

Nama besar Eyang Habibie begitu harum di Jerman. Tapi itu tidak menghalanginya untuk kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Beliau lebih memilih untuk mengabdi di negeri yang membesarkannya daripada negeri yang sebenarnya sangat bisa memberinya kepopuleran dan harta.

Pada bulan Agustus 1973, Eyang Habibie bertemu dengan Presiden Soeharto.

Bertemu Presiden Soeharto (dok. historia.co.id) 

"Habibie, sekarang kamu harus membantu saya mensukseskan pembangunan. Yang penting bagi saya adalah teknologi. Coba kamu cari jalan,” kata presiden kedua Indonesia itu.

“Pak Harto, saya hanya bisa membuat pesawat terbang. Mengapa saya akan diberi tugas seperti ini?” tanya Eyang Habibie.

“Kamu bisa membuat pesawat terbang, artinya kamu bisa membuat yang lain-lain.” jawab Pak Harto.

Sejak saat itulah, Eyang Habibie mengemban amanah untuk membangun industri penerbangan nasional lewat Industri Pesawat Terbang Nusantara/IPTN (kini PT Dirgantara Indonesia/PT DI). Bagi saya sendiri, jabatan beliau saat itu terus melekat hingga kini: Menteri Negara Riset dan Teknologi, Menristek. 

Maka lahirlah Pesawat N250 Gatot Kaca pada tanggal 10 Agustus 1995, pesawat pertama yang dibuat di Indonesia. Ini adalah satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang menggunakan fly by wire dengan jam terbang 900 jam. Alangkah bangganya seluruh bangsa ini.

Mari Terbangkan R80! 

Eyang Habibie telah pergi tapi beliau masih menitipkan mimpi besar: menghadirkan Pesawat R80. Ini adalah pesawat rancangan beliau melalui PT Regio Aviasi Industri (RAI), perusahaan yang dibangun oleh putra sulungnya, Ilham Akbar Habibie. 



Rancangan Pesawat R80 ini pernah dipamerkan dalam Bekraf Habibie Festival di JIExpo Kemayoran, Jakarta pada tahun 2017 silam. Pesawat R80 masuk ke dalam Proyek Strategi Nasional (PSN) yang mulai digarap tahun ini dan akan mulai dijual pada tahun 2025.

Kita bisa membantu mewujudkan mimpi Eyang Habibie dengan ikut menyumbangkan dana demi aksi #TerbangkanPesawatIndonesia. Yuk, ikutan patungan dengan cara yang menyenangkan!

Kunjungi instagram: @pesawatr80, yuk! 

Rasanya tak akan cukup kalimat di dalam postingan kali ini untuk menggambarkan kekaguman saya pada sosok Eyang Habibie. Semoga ini cukup mewakili dan menjadi jejak kenangan yang tak terlupakan. We love you, Eyang. 😔😘



Salam, 







Postingan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post (ODOP) September 2019 by Estrilook Community.


#ODOPDay7
September 14, 2019

Pada Sebuah Musim di Borobudur

by , in

Goodbye to you my trusted friend
We've known each other since we were nine or ten
Together we've climbed hills and trees
Learned of love and ABC's
Skinned our hearts and skinned our knees
("Seasons in The Sun" by Westlife)


"Ummi berdendang apaan, sih?" Afra bertanya sambil sedikit heran saat mulut saya berkomat-kamit tidak jelas.

"Hehe... Ada, deh. Ummi jadi teringat perpisahan dengan teman-teman SMP dulu saat kami ke Borobudur," jawab saya.

Putri sulung saya itu manggut-manggut tapi tidak bertanya lebih lanjut. Dia melanjutkan mengedarkan pandangan keluar jendela bus yang saat itu sudah memasuki area Candi Borobudur. Tampak deretan bus pariwisata berjajar rapi tapi tanpa isi. Pastinya para penumpangnya sudah turun dan tengah menjelajah situs warisan dunia UNESCO tersebut.

Bus yang pagi-pagi sudah membawa kami dari Restoran Pringsewu, Sleman, Yogyakarta itu lantas bergabung dengan bus lain di parkiran. Matahari mulai meninggi. Teman-teman Afra terdengar riuh ingin segera keluar dari bus. Tenang. Saya memberikan isyarat pada Afra dan Reva -teman Afra yang duduk bareng kami- untuk tenang. Tidak perlu berjejalan, berbaris santai saja menuju pintu keluar bus. 

Diiringi suara merdu Nissa Sabyan :) 

Ah, Borobudur. Akhirnya saya menjumpainya lagi setelah sekian lama. Seperti penggalan covered song by Westlife di atas; di Borobudur untuk kemudian berpisah dengan teman-teman saya karena kami lulus dari SMP.

Good bye to you my trusted friend...

Saat itu saya berpikir: sebentar lagi Afra dan teman-temannya yang akan merasakannya.

By the way, teman-teman yang tahu lirik lagu di atas pastinya se-zaman dengan saya ;) Isi lagunya tak sepenuhnya tepat dengan suasana perpisahan, sih. Aslinya, lagu lawas milik Terry Jacks yang dinyanyikan ulang oleh Westlife tersebut adalah tentang seseorang menjelang ajalnya yang mengingat kenangan bersama teman yang justru mengkhianatinya. Hiks.

Konser 20 Tahun Westlife 😍

Yaa... maknanya menyerempet sedikit boleh lah. Apalagi saat itu saya berada di kawasan Borobudur yang dijadikan tempat konsernya Westlife pada akhir bulan Agustus 2019 kemarin. Tuh, pas bukan? Terjawab sudah hubungan antara Borobudur dan Westlife, hehe.

Borobudur yang Kian Teratur

Selepas dari parkiran, kami semua menuju arah pintu masuk Borobudur yang amat ramai. Matahari mulai menyengat. Para penjual topi dan ojek payung menawarkan dagangan serta jasa mereka. Alhamdulillah, saya sudah siap dengan payung sendiri. Tak perlu beli topi atau sewa payung lagi.

Tak lama kemudian, dua orang guide yang memandu rombongan kami membagi-bagikan tiket masuk. Seperti biasa, ada perbedaan harga antara harga tiket dewasa dan anak-anak.

Saya lupa berapa HTM untuk anak-anak :D

Salah seorang guru yang menjadi koordinator mempersilakan anggota rombongan untuk pergi ke toilet dulu sebelum menuju pintu masuk. Dia juga mengingatkan salah seorang anak yang memakai celana di atas lutut. It was forbidden! Borobudur adalah tempat suci yang harus dihormati, termasuk dari segi berpakaian.

Akhirnya, si anak tersebut segera berlari untuk membeli celana batik panjang di deretan lapak yang berada tidak jauh dari situ. Hu-uh. Dari awal sudah dibilangin, kok. Bisa juga sih tidak usah membeli celana panjang tapi cukup menyewa kain yang nantinya dikenakan seperti memakai sarung. Ada stand tersendiri yang menyediakannya.

Padatnya pintu masuk

Beres urusan persiapan, kami beriringan menuju pintu masuk. Barisan anak-anak dan dewasa dibedakan jalurnya. Ada proses scanning tiket QR code dan pengecekan barang bawaan. Seingat saya, para pengunjung hanya diperbolehkan membawa minuman. No snacking during walking there.

Hal di atas bertujuan untuk menjaga kebersihan Borobudur, sih. Bagus juga, pikir saya. Borobudur memang kian teratur. Terlihat sejak di parkiran, deretan lapak, para penjual cinderamata resmi, hingga pintu masuk. Harus, dong. Level ketenaran Borobudur 'kan sudah tingkat dunia.

Begitu lepas dari antrian pintu masuk, kami para orang tua tertinggal di belakang. Anak-anak melesat jauh di depan. Tak apa. Ada guru-guru yang mengawal mereka yang sengaja "berseragam" jaket biru agar mudah dikenali.

I love walking 💪

Saya pun berjalan santuy bersama para emak pengawal anak. I love walking. Borobudur semakin nampak dari kejauhan. Lanjuuut... Entah berapa kilometer jarak dari pintu masuk ke area candi. Saat itu hari Rabu, working day, sehingga suasana tidak terlalu padat. Ramai, sih. Tapi tidak sepadat saat libur lebaran atau liburan sekolah.

Menuju Arupadhatu

Capek berjalan? Sedikit. Lebih banyak senangnya sih kalau menurut saya. Pun karena amunisi saya tepat: payung, memakai sandal tipis, membawa tas kecil saja, air minum, memakai legging di dalam gamis, dan tentunya niat yang kuat untuk mendaki ke atas.

Beberapa emak memilih untuk berhenti di tingkat kedua saja. Wajah mereka yang tidak memakai topi tampak memerah, ada yang terengah-engah. Baiklah... 

Arupadhatu, puncak tertinggi Borobudur

Tekad saya bulat: saya harus naik ke atas. Ke Arupadhatu. Jika menyebut kata ini, ingatan saya bukan tentang Westlife lagi tapi tentang tulisan awal di sebuah novel favorit saya yaitu Altitude 3676: Takhta Mahameru.

Arupadhatu

It's autumn, uhm?
Path is past
This lost area between us

Seolah sedang musim gugur di Borobudur. Benar-benar langsung mengingatkanku pada bait terakhir salah satu puisi pendekmu itu. Kamu lihatlah, daun-daun pepohonan berserak di sekeliling candi.

Sambil agak bersandar di salah satu stupa, pandanganku jatuh pada dedaunan yang lepas dari ranting-ranting pohon. Guguran itu makin banyak ketika angin berembus sedikit lebih kencang. Aku sadar, sepertinya aku memang sudah sangat terlambat.
...

Tiga paragraf di atas itulah yang menjadi tulisan awal pada novel petualangan karya Azzura Dayana, terbitan Indiva Media Kreasi. Salah satu setting tempatnya adalah Candi Borobudur ini. Ada mirip-miripnya dengan saya, lho.

Kalau di novel itu, Faras -tokoh utamanya- mencari jejak Raja Ikhsan melalui petualangan seru, saya pun saat itu merasa begitu. Bedanya, sambil mendaki candi, saya menoleh kanan-kiri untuk mencari jejak anak saya yang menghilang bersama teman-temannya sejak di pintu masuk tadi. Huuft...


Pastinya, mereka terlalu cepat berjalan hingga ke Arupadhatu, puncaknya Candi Borobudur. Sementara kami, para orang tua yang sejak awal agak lambat keluar antrian pintu masuk, menjadi semakin tertinggal di belakang.

It was okay. Ada beberapa bapak dan ibu guru yang bersama rombongan anak-anak yang kompak memakai jaket biru, khas Arema itu. Saya terus mencari ke atas, mendaki walau panas matahari begitu membakar siang itu. Terik, tetapi Candi Borobudur selalu membuat saya tertarik.

IG: @borobudursunrisetrip

Benar saja. Rombongan anak-anak itu sedang asyik bergaya di atas sana. Sedangkan saya seperti kehilangan kata-kata. Lidah seperti kelu di Arupadhatu. Masya Allah, indah. Dari atas, Borobudur benar-benar seperti bunga teratai yang sedang merekah.

Berjalanlah dan Selamatkan Gajah!

Ya, saya begitu menikmati saat berjalan kaki dan mendaki. Modal pentingnya memang fisik yang prima; kaki harus kuat, euy! Setelah berjalan menuju candi, mendaki hingga ke puncak candi setinggi 35 meter, lalu harus turun kembali. Selanjutnya adalah berkeliling area candi sekaligus menuju pintu keluar yang lumayan jauh juga jaraknya. Alhamdulillah, Afra tak terlihat lelah. Pasti karena adanya teman seperjalanan, tuh.

Sebagai penyuka jalan kaki, saya tetap memilih berjalan kaki walaupun sebenarnya ada sih sarana lain seperti mobil VW, kereta kuda, dan menaiki gajah. Nah, yang saya sebut terakhir itu menuai kontroversi yang puncaknya adalah adanya petisi "Stop Penyiksaan Gajah di Borobudur" di laman change.org.

Gajah di Borobudur (dok. mongabay.co.id) 

Petisi itu diinisiasi oleh Melanie Subono pada tanggal 5 Mei 2019, beberapa hari pasca kunjungan kami ke sana. Alhamdulillah, saya sama sekali tidak tertarik menaiki hewan bertubuh besar itu saat berada di Borobudur.

Nah, menurut Melanie, Gajah sudah dipisahkan dengan habitat alaminya dan dipaksa bekerja sebagai hewan tunggangan. Ditunggangi itu bukan perilaku alami dan pemberian beban di punggung gajah akan merusak jaringan bahkan merusak tulang punggung mereka secara permanen.

Gajah yang ditunggangi telah mengalami trauma psikologis yang disengaja. Teorinya adalah agar binatang itu menurut, mereka harus 'takut' pada manusia. Proses paling umum adalah dengan mengikat gajah muda dan dipukuli berkali kali oleh kelompok penangkapnya sampai “spirit” mereka patah. Dan karena gajah punya ingatan kuat, maka akan melekatlah seumur hidup mereka “ketakutan” mereka pada manusia yang menjadi majikannya. Hiks.

So, jika suatu hari nanti saya sekeluarga pergi ke Borobudur lagi saya tetap akan memilih berjalan kaki. Sehat, dong! Noway for elephant riding! Saya sudah mendukung petisinya. 

Alhamdulillah, petisi yang mendapatkan 82 ribu tanda tangan itu membawa hasil. Pihak PT. Taman Wisata Candi (TWC) sebagai pengelola kawasan wisata Borobudur menyatakan bahwa atraksi tunggang gajah itu tidak akan dilakukan lagi.

Cinderamata dan Cuci Mata

"Haus, Mi," kata Afra ketika kami sudah sampai di pintu gerbang keluar candi. 

Di sana terdapat berderet-deret lapak oleh-oleh yang rupanya lebih banyak daripada di sekitar pintu masuk. Saya jadi teringat lapak oleh-oleh yang bak labirin saat mengunjungi Makam Bung Karno. Penataannya persis dengan yang di Borobudur itu.

Sebuah strategi marketing yang bagus. Begitu para pengunjung merasa capek berjalan, langsung "dihibur" dengan oleh-oleh beraneka warna yang memanjakan mata. Lapak-lapak itu harus dilalui dulu jika ingin menuju parkiran lagi. Tak ada jalan yang lain.

Saya dan seorang ibu memilih beberapa oleh-oleh makanan untuk dibawa pulang, juga setelan kaus untuk si kecil. Walaupun kain kausnya ber-standar "biasa", seperti ada yang kurang gitu jika pulang ke rumah tanpa membawa kaus. Eh, ada yang aneh. Pada sebuah kaus tertulis: Borobudur, Yogyakarta, Indonesia. Waduh!


Tahu 'kan letak kesalahannya? Candi Budha yang termasuk terbesar di dunia, yang konon didirikan pada masa pemerintahan Raja Samaratungga (tahun 825 masehi, wangsa Syailendra) ini terletak di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. 

Memang tidak terlalu jauh dari Yogyakarta -sekitar 40 kilometer- sehingga banyak yang berkata atau mengira bahwa Borobudur itu letaknya di Yogyakarta. Padahal sudah beda provinsi. #RIPGeografi hihi... 


Jadi, kapan teman-teman pergi ke Borobudur lagi? 




Salam, 
Tatiek




Postingan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post (ODOP) September 2019 by Estrilook Community.


#ODOPDay6
September 10, 2019

Yogyakarta dan Jawa Tengah: pada Sebuah Wisata Sekolah

by , in

Wisata sekolah adalah sebuah hadiah setelah menempuh ujian dengan bersusah-payah. Itu sepertinya yang dirasakan oleh putri sulung saya, Afra, beserta teman-temannya pasca menjalani Ujian Nasional (UN) Sekolah Dasar pada tanggal 22-24 April 2019 yang lalu. Senin sampai Rabu menggebu, tibalah Jumat untuk rehat. Ya, pada Jumat malam (26/04/19) rombongan wisata sekolah dari SDN 02 Pakisaji berangkat ke Yogyakarta dan Jawa Tengah.

By the way, ini memang tulisan latepost. Tertunda setelah bulan Mei-Juni saya fokus ke Ramadan dan mengikuti tantangan ngeblog di BPN Ramadan Challenge. Lanjut libur lebaran, persiapan Afra masuk pondok pesantren, dan saya memutuskan untuk hiatus. Kerempongan A-Z bareng si bungsu yang tak terdefinisikan itu sudah pasti. Hehe...

Sekarang, karena sedang kangen anak, lebih baik saya curahkan dengan menuliskan perjalanan wisata sekolahnya di sini ;) 

Pentingnya Pendampingan Orang Tua

Untuk bisa mendampingi Afra berwisata, saya harus "berbicara baik-baik" pada si bungsu Akmal (saat itu 32 bulan). Itu adalah saat pertama kalinya saya harus pergi jauh tanpa mengajak si kecil. Kalau kata orang Jawa: nilapno.

"Adek, Ummi mau menemani Mbak Afra pergi, boleh?" tanya saya beberapa hari sebelum hari-H.

"Adek?"

"Adek bermain sama Abi dan Yangti, ya? Nanti adek diajak muter-muter pakai motor dan menonton traktor. Oke?"

Bla... bla... bla...

Alhamdulillah, dia mengerti dengan apa yang saya jelaskan. Ditambah lagi, sebenarnya si bungsu memang dekat pula dengan Abi-nya. Walaupun pada bulan April itu kami masih ber-Long Distance Marriage (LDM) dari Senin sampai Jumat, itu tidak membuat renggang hubungan ayah dan anak. Waktu wisatanya pas pula; saat si Abi sudah berada di rumah sehingga ada yang jagain si kecil. Sip.

Alhamdulillah, segala persiapan dan perbekalan pun beres saya siapkan, dengan sedikit dibantu Afra. Ya, menyiapkan perbekalan untuk bepergian jauh adalah "spesialisasi" saya semenjak menjadi istri orang Jawa Tengah dan sering mudik. Beres, pokoke...



Untuk Afra sendiri, dia telah terbiasa pergi jauh lintas provinsi tanpa mabuk perjalanan. Hmm... Mabuk perjalanan adalah problem klasik dimana pun yang dengan berbagai cara berusaha diatasi termasuk dalam rombongan perjalanan wisata sekolah Afra.

Ada yang memakai trik dengan menempel plester di pusar, hehe. Pastinya, semua murid dianjurkan untuk meminum obat anti mabuk perjalanan seperti anti*m* anak. Ya, karena mabuk perjalanan bisa mengacaukan semua rencana indah saat jalan-jalan.

Itu juga yang mendasari aturan sekolah agar setiap anak didampingi oleh orang tua mereka. Saat anak mengalami mabuk perjalanan, misalnya. Bukankah orang tuanya sendiri akan lebih leluasa menangani? Anak pun bisa merasa lebih nyaman dan tidak sungkan karena telah memuntahkan isi perut. Walaupun muntah itu wajar, kita semua tahu lah orang lain pasti ada rasa jijiknya dengan "hasil muntahan". Yekan?

Siap mengawal putri tercinta

Tetap saja sih ada yang orang tua yang memilih tidak ikut dan menitipkan anaknya pada guru atau orang tua lainnya. Ya, ya. Boleh saja, sih. Tapi kalau saya ya sayang banget. Tak lain karena wisata sekolah seperti itu bisa menjadi ajang we time saya bareng Afra. Bisa pula saya jadikan bahan tulisan di blog, hehe... 

Ajaran tentang Kesabaran dalam Perjalanan

Seperti halnya manfaat melakukan perjalanan bersama keluarga, perjalanan bersama rombongan sekolah seperti ini juga mengajarkan tentang kesabaran. Mulai dari sabar menunggu keberangkatan karena panitia harus memastikan lebih dulu jumlah siswa berikut orang tuanya yang ikut lalu membaginya ke dalam dua buah bus yang disewa.

Saya sendiri harus bersabar "mengasuh" dua anak karena ada temannya Afra yang dititipkan ke saya, hehe. It's okay. Si anak ini memang sahabat dekat Afra dan saya cukup mengenal orang tuanya. Anaknya baik dan komunikatif sehingga itu bukan beban buat saya. Jadilah kami bertiga duduk dalam satu deret. 

Tepat jam delapan malam, rombongan kami berangkat ke arah barat. Kesabaran yang lain pun dimulai: sopirnya lha kok menyetel lagu dangdut koplo, duh! Ini jelas berbeda bila membawa mobil sendiri karena saya tentu bisa mengatur apa yang mau saya dengarkan. Sabaaar! 

Suasana bus: AC dingin dan full music

Alhamdulillah, itu tidak berlangsung lama karena akhirnya video itu diganti dengan video lagu-lagu pop masa kini. Rupanya anak-anak tidak terlalu suka juga dengan si koplo. Berikutnya lebih menyenangkan lagi karena yang mengisi gendang telinga dan pandangan mata adalah lagu-lagunya Sabyan. Yeay! Dakwah ala Sabyan ini memang mengena banget karena anak-anak muda jadi lebih akrab dengan salawat dan nasihat melalui "bahasa kaum kekinian".

Bus yang melaju baru sampai di Blitar bagian barat sekitar dua jam berikutnya. Waktunya salat dan makan malam di sebuah rumah makan. Ini juga ujian kesabaran berikutnya: mengantri di toilet dan tetap menjalankan salat saat di perjalanan. Sebenernya saat perjalanan panjang seperti itu dibolehkan untuk menjama' dan meng-qashar salat. Tetapi, saya memilih untuk salat Isya seperti biasa karena diberikan waktu ishoma. Lain lagi jika tidak ada kesempatan untuk turun dari bus.

Saya memilih untuk melaksanakan salat duluan daripada makan. Malah lebih nyaman karena antrian salat di musalla jauh lebih sedikit daripada antrian makan. Karena sebenarnya saya juga enggan makan jam segitu, sekitar jam sepuluh. It's too late for me. Tapi karena ini bukan waktu biasa, saya dan anak-anak tetap mengambil jatah makan yang disediakan. Sedikit saja karena di awal perjalanan tadi sebenarnya sudah cukup ngemilnya ;)

Nah, menyantap makanan yang disediakan oleh rumah makan yang bekerja sama dengan armada bus ini juga ada dramanya. Pastinya menunya lebih sederhana dan dijatah, tidak seperti saat kita memesan makanan sendiri. Belum lagi jika rasanya kadang seadanya saja. Kuncinya: sabaar. Etapi, saat itu rasa makanannya lumayan, kok. Alhamdulillah.

Sekitar setengah jam kemudian, rombongan kami pun melanjutkan perjalanan. Latihan kesabaran berikutnya adalah berusaha untuk memejamkan mata. Saat itu saya tidak bisa tidur sampai sekitar jam 12 malam, sementara anak-anak di samping saya sudah pulas. Hmm, tidur dengan posisi duduk seperti itu memang PR sekali.

Resto Pringsewu, jam 3 dini hari sudah tiba di sini.
Saya mengambil gambarnya pas pagi, sih

Alhamdulillah, ternyata saya bisa terlelap juga. Tahu-tahu, menjelang jam 3 dini hari, bus-nya sudah sampai di Sleman, Yogyakarta. Lho, kok cepat sekali? Ternyata saat saya tertidur tadi, si bus melaju cepat lewat jalan tol. Alhamdulillah lagi.

Keberadaan jalan tol terasa sekali manfaatnya saat perjalanan seperti itu: benar-benar bisa memangkas waktu. Seingat saya, butuh waktu sekitar 10 jam dari Malang ke Yogyakarta saat malam hari. Saat itu kami bisa menempuhnya dalam waktu sekitar 7 jam saja. Senangnyaaa.

Butuh Strategi dan Belajar Mensyukuri

Iya, senang. Karena bus yang kami tumpangi langsung menuju sebuah rumah makan yakni Rumah Makan Pringsewu yang saat itu tentu saja belum buka. Sebuah kesempatan yang baik untuk mandi pagi dan mempersiapkan salat subuh lebih awal. Ada juga sih yang memilih melanjutkan tidurnya di dalam bus. 

Saya sih memilih turun dari bus, menghirup udara yang masih segar. Halo, Yogyakarta! Akhirnya bertemu dia lagi setelah 4 tahun. Suasana masih sepi. Saya mengajak Afra dan temannya untuk mengantri mandi lebih awal. Harus punya strategi dalam perjalanan dengan rombongan seperti ini. Alhamdulillah, kamar mandi di Pringsewu cukup banyak dan bersih. Tak perlu mengantri lama jadinya. Airnya pun tidak terlalu dingin seperti di Malang.

Pilihan saya itu tepat. Saat kami selesai mandi, orang-orang baru berdatangan ke kamar mandi. Rupanya mereka mengantuk tadi. Sambil menunggu subuh tiba, saya berbincang dengan beberapa orang tua siswa yang juga memilih untuk mandi lebih cepat. Tuh, bisa bersantai jika "rajin" dari awal :) 

Ternyata ada salah seorang siswa yang teler berat. Dia dan ibunya berasal di bus sebelah sehingga saya baru tahu. Di sepanjang perjalanan, dia mabuk terus sampai terlihat pucat. Dia dan ibunya memilih mojok di musalla karena si anak ingin rebahan. Dua orang guru tampak memeriksa kondisinya dan berencana mencari klinik di dekat situ.

Alhamdulillah, bisa menikmati pagi yang cerah di Pringsewu. Berfoto setelah sarapan.

Sungguh, kadang perjalanan itu memang tidak mudah bagi sebagian orang. Kita bisa menikmatinya, belum tentu orang lain berada pada kondisi yang sama. Maka kemudahan dan keselamatan dalam perjalanan adalah sebuah hal yang patut disyukuri. Dalam setiap gaya pada foto-foto perjalanan kita, ada kisah perjuangan di sana.

Nah, kisah lanjutan dari perjalanan ke Yogyakarta dan Jawa Tengah ini akan saya ceritakan pada postingan mendatang saja. Ternyata sudah sepanjang ini celoteh saya ;)

Just wait for the next episode: Going to Borobudur! 



Salam, 
Tatiek


Postingan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post (ODOP) September 2019 by Estrilook Community.

#ODOPDay5