Menikmati Keindahan Perkebunan Teh Kemuning di Karanganyar, Jawa Tengah yang Sungguh Indah


Minuman teh begitu mudah ditemukan dimana-mana. Ia biasa dinikmati di rumah, warung, restoran dan sekarang banyak dikemas dalam bentuk minuman siap saji. Teh seakan sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Saya sendiri adalah penikmat teh yang lebih sering meminumnya tanpa gula. Sedaaap.

Tidak mengherankan karena Indonesia berada pada peringkat ke-7 sebagai negara penghasil teh terbesar di dunia. Menurut data Kementerian Pertanian, luas perkebunan teh Indonesia mencapai 122.206 hektar (per 2014).

Agrowisata Andalan Jawa Tengah


Selain menghasilkan teh yang nikmat, perkebunan teh juga menjadi obyek agrowisata favorit. Salah satunya adalah perkebunan teh Kemuning yang terletak di Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Tidak kalah dari kawasan Puncak Bogor,  Kecamatan Ngargoyoso ini berada di lereng barat Gunung Lawu yang berudara dingin sekitar 21,5 derajat celcius. Bisa dibayangkan sejuknya, nih.

Perkebunan teh Kemuning didirikan pada masa penjajahan Belanda oleh perusahaan NV. Cultur Mascave Kemuning. Pernah diambil alih oleh Jepang saat negeri sakura itu menjajah Indonesia. Sekarang, perkebunan teh ini dikelola oleh PT. Sumber Abadi Tirta Sentosa.

Nah, perkebunan teh Kemuning turut andil dalam pencapaian panen teh di Kabupaten Karanganyar yang mencapai 11 ton per hari. Wow! Teh memang menjadi salah satu komoditi andalan kabupaten yang masuk dalam kawasan Solo Raya ini.

Lokasi yang Mudah Dijangkau


Jarak kebun teh Kemuning dari pusat Kota Solo sekitar 25 kilometer. Kita bisa mengendarai kendaraan pribadi ataupun bus untuk menuju ke sana. Tidak perlu khawatir tersesat karena ada papan penunjuk arah di sepanjang perjalanan. Sebaiknya, kita juga memanfaatkan google maps atau waze sebagai pemandu digital.

Dari Kota Solo, arahkan kendaraan kita ke timur menuju Kabupaten Karanganyar. Di sini, kita akan mulai merasakan hawa yang sejuk daripada di Kota Solo. Lalu ambil jalur yang menuju Kecamatan Karangpandan. Nanti kita akan bertemu papan penunjuk arah ke Candi Sukuh, Candi Cetho, dan Air Terjun Jumog. Pilih jalur sebelah kiri dan ikuti terus sampai bertemu jalan utama. Teruskan sampai bertemu dengan pintu gerbang perkebunan teh.

Jika menaiki bus, pilihlah bus jurusan Tawangmangu dan turunlah di Terminal Karangpandan. Sesampainya di sana, kita harus beralih menaiki bus mini yang akan membawa kita ke perkebunan teh Kemuning. Tarifnya cukup murah, hanya Rp 5.000 untuk penumpang umum dan Rp 2.000 untuk pelajar.

Saatnya Ber-Tea Walking


Akhirnya kita sampai di gerbang masuk perkebunan teh Kemuning. Berapa harga tiket masuknya? Mari tersenyum; gratis! Senyum kita akan semakin lebar saat hamparan kebun teh
seluas 437 hektar itu mulai menyejukkan mata kita.

Nah, tinggi dataran kebun teh Kemuning bervariasi yaitu dari 800 hingga 1540 meter di atas permukaan laut. Kelembapan di wilayah ini berkisar antara 60 sampai 80 % dengan penyinaran matahari hanya 40 sampai 55 %. Perkebunan teh Kemuning memiliki curah hujan sepanjang tahun antara 3000-4000 mm per tahun, dengan musim kemarau yang sebentar saja.

Waktu kunjungan paling bagus adalah di pagi hari. Kita bisa menyaksikan matahari pagiy indah di kaki Gunung Lawu tersebut. Segera parkirkan kendaraan kita di lokasi parkir yang tersedia dan mari mulai ber-tea walking. Ya, tea walking adalah berjalan kaki menyusuri perkebunan teh untuk menikmati keindahan dan kesejukannya yang terhampar di depan mata.

Kita diperbolehkan untuk masuk ke rerimbunan pohon teh yang biasanya setinggi pinggang orang dewasa itu. Ada jalur-jalur sempit untuk dilalui di antara pohon-pohon teh itu. Hanya lewati jalur yang seperti itu, ya. Jangan sampai merusak pohon-pohon teh karena kita memaksa menerobos rerimbunan teh lebat yang tidak ada jalurnya di sana.

Sejauh mata memandang, kita akan menyaksikan indahnya surga dunia yang menghijau itu. Segera ambil kamera atau gawai karena momen berharga seperti itu sebaiknya diabadikan.

Di saat seperti itu, kita juga bisa menyaksikan puluhan pemetik teh yang sedang menjalankan tugasnya. Mereka bercaping dengan membawa keranjang -disebut tenggok- di punggung mereka.

Para pemetik teh itu terlihat memetik daun-daun teh dengan cekatan dan gembira. Sesekali, mereka mengobrol bersahutan memakai bahasa Jawa. Kita boleh kok bergabung dengan mereka. Biasanya mereka dengan senang hati mengajari kita bagaimana memilih dan memetik daun teh yang benar.

Menikmati Teh di Rumah Teh


Puas ber-tea walking, kita bisa rehat di dua rumah teh yang terletak di tengah kawasan itu. Ada Rumah Teh Bale Branti yang mengusung konsep rumah Joglo. Ada pula Rumah Teh Ndoro Donker yang berkonsep rumah kolonial Belanda. Keduanya dibuka pada pukul 10.00 dengan menyediakan teh segar hasil perkebunan teh Kemuning berikut cemilan dan menu makanan berat.

Kita bisa menikmati berbagai varian teh yang disajikan di dalam teko atau cangkir, dengan harga Rp 30.000 per teko dan Rp 10.000 per cangkir. Ada pula beraneka cemilan dan makanan berat yang dibanderol dari harga Rp 15.000 sampai Rp 50.000. 

Puas ngeteh dan bersantap, kita bisa berkeliling rumah teh yang menyediakan banyak spot yang instagramable itu. Tersedia juga toilet dan musala yang cukup bersih sehingga semakin membuat kita nyaman.

Sayangnya, kedua rumah teh itu tutup pada pukul 19.00. Jika kita masih betah di perkebunan teh Kemuning, kita bisa menginap di penginapan dan hotel yang letaknya berdekatan dengan kedua rumah teh tersebut.

Salah satu hotel yang terkenal adalah Hotel Jawa Dwipa yang gaya bangunannya bernuansa Kerajaan Mataram. Dengan menginap, kita akan bisa menikmati sunrise lebih awal di perkebunan teh Kemuning keesokan harinya.

Yuk, ber-tea walking ke perkebunan teh Kemuning!


Salam,


You Might Also Like

0 comments